TVRINews Yogyakarta
Jogja Gallery menghadirkan pameran tunggal maestro seni lukis nasional, Asri Nugroho Nus Pakurimba. Perupa kelahiran Surabaya, 4 Juli 1952, itu membawa lebih dari 35 karya bertajuk “Lignum Vitae – Pohon Kehidupan”, yang mengajak pengunjung menelusuri refleksi tentang kehidupan, spiritualitas, dan hubungan manusia dengan alam.
Selama puluhan tahun berkarya, Asri dikenal memiliki gaya visual yang memadukan unsur realisme, abstraksi, dan simbolisme. Lukisan-lukisannya tidak sekadar menghadirkan bentuk, tetapi juga mengandung narasi yang lahir dari pengalaman hidup, perenungan, hingga berbagai peristiwa sosial yang pernah ia saksikan.
Melalui tema Pohon Kehidupan, Asri menjadikan pohon sebagai metafora perjalanan hidup manusia. Akar, batang, ranting, hingga daun diterjemahkan menjadi simbol hubungan antara kehidupan fisik dan batin, sekaligus perjalanan spiritual yang terus bertumbuh.
“Pohon kehidupan adalah simbol saya. Saya berbuat apa, saya punya kenangan, nah itu yang saya lukis,” ujar Asri Nugroho Nus Pakurimba kutip Kamis, 6 Agustus 2026.
Salah satu karya yang dipamerkan lahir dari pengamatannya terhadap peristiwa tumbangnya pohon di Sumatra. Menurut Asri, kejadian tersebut tidak hanya menyisakan kerusakan secara fisik, tetapi juga menggambarkan duka yang dirasakan masyarakat yang terdampak.
“Ini kan saya melihat pohon yang tumbang di Sumatra, saya melukis itu, kok betapa sakitnya yang terkena musibah itu,” katanya.
Dalam pameran ini, Asri juga menghadirkan eksplorasi media yang tidak lazim. Selain menggunakan cat akrilik, ia memadukan berbagai material seperti motherboard komputer, kabel tembaga, selang plastik, kaca, baut, paku, kain, hingga tube cat bekas dalam teknik kolase. Perpaduan tersebut menghadirkan dimensi visual yang lebih kaya sekaligus mempertegas karakter khas karya-karyanya.
Pameran ini tidak hanya menjadi ruang apresiasi seni, tetapi juga ajang silaturahmi para perupa dari berbagai daerah. Sejumlah seniman memanfaatkan kesempatan tersebut untuk berdiskusi, berbagi pengalaman, serta bertukar pandangan mengenai perkembangan seni rupa Indonesia.
Kurator seni nasional, M. Agus Burhan, menilai Asri sebagai seniman yang mampu menjaga konsistensi gagasan sekaligus terus melakukan pembaruan dalam proses kreatifnya.
“Asri Nugroho itu selalu hidup dan mempunyai daya untuk bisa merefleksikan tanggapan personalnya pada nilai-nilai kehidupan, nilai-nilai sosial maupun juga dimensi spiritual. Terlebih juga ada kreativitas baru, bagaimana dia memperluas medianya dengan menggunakan motherboard sebagai media campuran. Ini menjadi kreativitas baru sehingga abstraksi yang dihadirkannya terus berkembang,” ujarnya.
Pandangan serupa disampaikan seniman sekaligus akademisi senior, Mpu I Gusti Ngurah Nurata. Menurutnya, eksplorasi berbagai material baru tidak menghilangkan identitas artistik Asri sebagai seorang perupa.
“Apa yang saya lihat sekarang ini dia tidak meninggalkan karakter pribadinya. Unsur-unsur logam masih melekat dalam karyanya. Asri Nugroho tidak hanya menampilkan kekuatan visual, tetapi juga menghadirkan nilai artistik, estetika, etika penciptaan, filosofi, hingga pesan moral yang kuat,” katanya.
Perjalanan panjang Asri Nugroho di dunia seni rupa telah membawanya mengikuti lebih dari 60 pameran bersama di dalam maupun luar negeri. Karya-karyanya pernah dipamerkan di berbagai museum dan galeri di Korea Selatan, Jepang, Filipina, Singapura, hingga Tiongkok.
Melalui pameran “Lignum Vitae – Pohon Kehidupan”, Asri berharap seni tidak hanya menjadi media ekspresi, tetapi juga ruang refleksi bagi masyarakat. Pameran ini sekaligus memperkaya khazanah seni rupa di Yogyakarta dengan menghadirkan karya-karya yang mengajak pengunjung merenungkan kehidupan, alam, dan nilai-nilai kemanusiaan melalui bahasa visual yang khas.









