TVRINews Yogyakarta
Hasil pengukuran Indeks Masyarakat Digital Indonesia periode 2022–2025 menunjukkan tren peningkatan pada tingkat digitalisasi nasional. Pada 2024, indeks tercatat sebesar 43,34 persen dan naik menjadi 44,53 persen pada 2025.
Namun, peningkatan tersebut tidak diiringi dengan kualitas literasi digital yang justru mengalami penurunan signifikan, dari 58,25 persen menjadi 49,8 persen. Hal ini disampaikan oleh Peneliti Pusat Studi Pancasila Universitas Gadjah Mada (UGM), Hendro Muhaimin dalam Sarasehan Hari Kebangkitan Nasional bertema Berdaya, Inklusif, dan Adaptif di Era Digital yang digelar di Gedhong Pracimosono, kompleks Kantor Gubernur DIY.
Menurut Hendro, ketimpangan antara tingginya penetrasi teknologi dan rendahnya literasi digital berpotensi memunculkan berbagai ancaman di ruang siber.
Berdasarkan laporan pemetaan perilaku pengguna ruang digital tahun 2024 oleh Badan Siber dan Sandi Negara, ancaman terbesar di wilayah Yogyakarta didominasi oleh hoaks dengan persentase mencapai 91,9 persen.
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa masyarakat masih rentan terhadap disinformasi yang dapat memengaruhi opini publik, merusak kepercayaan, hingga memicu polarisasi sosial.
Selain hoaks, ancaman lain yang cukup tinggi meliputi kejahatan daring sebesar 87,2 persen dan perundungan siber sebesar 85,6 persen. Sementara itu, potensi radikalisme tercatat 64,1 persen, diikuti isu narkotika 37,9 persen dan pornografi 33,9 persen.
Secara khusus di Daerah Istimewa Yogyakarta, kasus kejahatan siber masih didominasi oleh penipuan daring yang mencapai 67 persen dari total laporan. Di bawahnya, terdapat pornografi siber sebesar 15 persen, peretasan data 10 persen, serta judi daring 8 persen.
Data tersebut dihimpun dari berbagai sumber resmi, termasuk kepolisian dan Kementerian Komunikasi dan Digital, lalu dianalisis menggunakan perangkat analitik digital.
Hendro menilai, tingginya minat baca masyarakat DIY dapat menjadi modal penting dalam memperkuat literasi digital. Dengan kemampuan berpikir kritis yang baik, masyarakat diharapkan lebih tahan terhadap arus informasi yang menyesatkan.
“DIY memiliki minat baca tertinggi di Indonesia. Ini menjadi kekuatan untuk membangun literasi digital yang lebih baik, sekaligus memperkuat daya kritis dan ketahanan sosial masyarakat,” ujarnya.
Di sisi lain, maraknya konsumsi konten video berdurasi pendek di media sosial juga dinilai turut memengaruhi pola pikir masyarakat. Informasi yang cepat dan berulang melalui algoritma berisiko membentuk cara berpikir yang instan dan kurang terstruktur.
Ketua Kelompok Informasi Masyarakat Ngesti Tri Tunggal, Dwi Nur Rohman, mengajak para kreator untuk menghadirkan konten yang tidak hanya menarik, tetapi juga memberikan nilai edukatif dan menumbuhkan rasa nasionalisme.
“Saya mengajak teman-teman untuk membuat konten yang tidak sekadar mengejar keuntungan, tetapi juga membangun rasa nasionalisme dan memberi manfaat bagi masyarakat,” katanya.
Sementara itu, Ketua KPAI Daerah Kota Yogyakarta, Sylvi Dewanjani, menekankan pentingnya peran orang tua dalam mendampingi anak di era digital. Ia mengingatkan bahwa pengawasan tanpa komunikasi justru dapat membuat anak tertutup terhadap masalah yang dihadapi di dunia maya.
“Pendampingan yang konsisten sangat penting agar anak memiliki fondasi yang kuat dalam menghadapi berbagai pengaruh negatif di ruang digital,” ujarnya.
Dalam forum tersebut juga diperkenalkan konsep Nandur Srawung, sebuah pendekatan budaya yang berakar dari ajaran Ki Ageng Suryomentaram. Konsep ini menawarkan lima langkah untuk meredam polarisasi digital, yakni dialog lintas kelompok (srawung), empati (tepung), sikap kritis (dunung), kolaborasi (tetulung), serta menjunjung etika dan keberagaman (adiluhung).










