TVRINews, Yogyakarta
Pameran Buku dan Arsip Daerah 2026 digelar di Perpustakaan Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Kegiatan ini menghimpun dan menampilkan berbagai bahan pustaka serta arsip yang memiliki nilai informasi, sejarah, dan budaya bagi masyarakat Yogyakarta.
Kepala Perpustakaan DIY, Syam Arjayanti, mengatakan melalui pameran ini masyarakat tidak hanya diajak untuk membaca dan mengenal koleksi buku, tetapi juga melihat arsip sebagai jejak dokumentasi perjalanan daerah. Arsip memiliki peran penting dalam merekam berbagai peristiwa yang terjadi di tengah masyarakat.
Dokumen yang tersimpan saat ini dapat menjadi sumber informasi bagi generasi mendatang, peneliti, pelajar, maupun masyarakat yang ingin mengetahui perjalanan sejarah dan perkembangan Yogyakarta.
Karena itu, upaya menghimpun, merawat, dan memperkenalkan arsip kepada publik menjadi bagian penting dalam pelestarian sejarah daerah. Pameran ini menjadi salah satu sarana untuk mendekatkan koleksi buku dan arsip kepada masyarakat.
Tidak hanya menyimpan, perpustakaan juga memiliki peran dalam memperkenalkan koleksi agar dapat dimanfaatkan sebagai sumber pengetahuan.
Kepala Perpustakaan DIY, Syam Arjayanti, berharap masyarakat dapat memanfaatkan buku sebagai sumber pengetahuan dan bahan untuk berdiskusi.
“Mereka akan membaca buku dan itu menjadi bahan diskusi. Ke depannya, itu bisa menjadi manfaat bagi masyarakat,” kata Syam, dikutip Senin, 31 Agustus 2026.
Syam Arjayanti menambahkan, sebanyak 119 penerbit berpartisipasi dalam Jogja Book Fair yang menjadi bagian dari kegiatan tersebut. Berbagai jenis dan koleksi buku ditampilkan untuk masyarakat selama pelaksanaan acara yang berlangsung selama 11 hari, dimulai tanggal 29 Agustus hingga 8 September 2026.
“Yang berpartisipasi ada sebanyak 119 penerbit, dengan beraneka ragam buku ditampilkan di Jogja Book Fair. Jadi, selama 11 hari masyarakat bisa datang untuk melihat Pameran Arsip dan Jogja Book Fair,” ujarnya.
Sementara itu, Duta Literasi DIY, Gusti Kanjeng Bendara Raden Ayu Adipati (GKBRAA) Paku Alam X, mengatakan keberadaan arsip media massa di perpustakaan dapat memperluas akses masyarakat, terutama generasi muda, terhadap sumber informasi sejarah.
Ke depan, arsip dapat menjadi bahan pembelajaran untuk melihat bagaimana sebuah peristiwa dicatat, diberitakan, dan menjadi bagian dari sejarah daerah.
“Saya senang sekali dengan diadakannya book fair dan juga pameran arsip. Karena bagaimanapun juga, kita butuh, di era globalisasi ini ketika AI merajalela, tetap harus mempunyai prinsip dan juga kemauan untuk membaca,” kata Gusti Kanjeng Bendara Raden Ayu Adipati (GKBRAA) Paku Alam X.
Pada pembukaan Pameran Buku dan Arsip Daerah, sejumlah media televisi dan koran lokal di DIY menyerahkan arsip mereka kepada Perpustakaan DIY.
Salah satunya adalah arsip TVRI Yogyakarta yang diserahkan langsung oleh Kepala TVRI Yogyakarta, Akbar Saidi, kepada Kepala Perpustakaan DIY, Syam Arjayanti.
Penyerahan arsip ini kemudian diikuti sejumlah media televisi dan koran lokal lainnya di DIY.
Keberadaan arsip media massa dinilai memiliki nilai penting karena merekam berbagai peristiwa dari sudut pandang jurnalistik dan menjadi bagian dari catatan perjalanan informasi serta sejarah perkembangan Daerah Istimewa Yogyakarta.









