TVRINews, Yogyakarta
Memasuki usia ke-71 tahun, SMP Negeri 1 Bantul terus memperkuat komitmennya sebagai sekolah berbasis riset dan budaya. Upaya ini dilakukan untuk mencetak generasi muda yang tidak hanya unggul dalam bidang akademik, tetapi juga memiliki karakter serta menjunjung nilai budaya Yogyakarta.
Kabupaten Bantul selama ini dikenal memiliki perhatian terhadap pengembangan pendidikan yang mengintegrasikan ilmu pengetahuan dengan kearifan lokal. Konsep sekolah berbasis riset dan budaya menjadi salah satu strategi untuk membentuk peserta didik yang kreatif, inovatif, sekaligus berkarakter.
Sejumlah sekolah tingkat SMP di bawah naungan Dinas Pendidikan, Kepemudaan, dan Olahraga Kabupaten Bantul telah mengembangkan konsep tersebut sebagai bagian dari proses pembelajaran.
Pada momentum peringatan Hari Ulang Tahun ke-71, SMP Negeri 1 Bantul kembali menegaskan komitmennya untuk terus mengembangkan pendidikan berbasis riset dan budaya. Berbagai pertunjukan seni dan budaya turut ditampilkan oleh para siswa sebagai bentuk pelestarian budaya sekaligus penguatan pendidikan karakter di lingkungan sekolah.
Kepala Dinas Pendidikan, Kepemudaan, dan Olahraga Kabupaten Bantul, Eko Nugroho, mengatakan sekolah berbasis riset dan budaya menjadi wadah bagi peserta didik untuk mengembangkan potensi secara menyeluruh.
"Dengan berbagai kekhasan yang dimiliki Kabupaten Bantul, kami berharap sekolah terus memperkuat konsep ini. Anak-anak tidak hanya menjadi pribadi yang cerdas secara akademik, tetapi juga menjadi manusia yang berbudaya, karena manusia berbudaya yang akan menentukan peradaban masa depan," ujar Eko.
Sementara itu, Kepala SMP Negeri 1 Bantul, Harjana, mengatakan pihak sekolah terus berupaya menggali potensi siswa melalui berbagai bidang, baik akademik maupun nonakademik.
"Prestasi menjadi persembahan kami, baik dalam bidang akademik maupun nonakademik. Harapannya peserta didik terus berkembang dan berprestasi sesuai semangat sekolah, yakni tiada hari tanpa prestasi," katanya.
Menurut Harjana, pengembangan riset dan budaya menjadi bagian penting dalam membangun lingkungan belajar yang tidak hanya berorientasi pada hasil, tetapi juga proses pembentukan karakter siswa.
Apresiasi juga disampaikan ASN purnatugas, Mikael Mitang. Ia menilai konsep pembelajaran yang menggabungkan akademik, riset, budaya, dan kegiatan nonakademik mampu menciptakan suasana belajar yang lebih menyenangkan bagi peserta didik.
"Di SMP Negeri 1 Bantul, semuanya berjalan beriringan. Akademik, nonakademik, riset, dan budaya dipadukan dalam pembelajaran sehingga siswa dapat berkembang tanpa merasa terbebani," ujar Mikael.
Melalui penguatan sekolah berbasis riset dan budaya, SMP Negeri 1 Bantul berharap dapat terus melahirkan generasi yang berprestasi, berkarakter, serta mampu menjaga nilai-nilai budaya Yogyakarta di tengah perkembangan zaman.









