TVRINews, Yogyakarta
Ribuan masyarakat bersama abdi dalem Keraton Yogyakarta mengikuti tradisi Mubeng Beteng pada Selasa, 16 Juni malam ingga Rabu, 17 Juni 2026 dini hari, bertepatan dengan malam 1 Suro atau pergantian Tahun Baru Jawa.
Tradisi berjalan kaki mengelilingi benteng Keraton Yogyakarta ini merupakan laku budaya dan spiritual yang dilakukan sebagai bentuk doa, introspeksi diri, serta harapan akan keselamatan dan keberkahan di tahun yang baru.
Prosesi dimulai dari Bangsal Ponconiti, Kamandungan Lor, Kompleks Keraton Yogyakarta, tepat pukul 00.00 WIB. Para peserta kemudian berjalan mengelilingi benteng keraton melalui rute Keben, Jalan Rotowijayan, Jalan Kauman, Jalan KH Agus Salim, Pojok Beteng Kulon, Jalan MT Haryono, Pojok Beteng Wetan, Jalan Brigjen Katamso, Alun-alun Utara, dan kembali ke titik awal di Keben. Total jarak yang ditempuh sekitar empat kilometer.
Selama perjalanan, seluruh peserta menjalani topo bisu, yakni berjalan tanpa berbicara. Suasana hening tersebut menjadi bagian penting dari ritual sebagai sarana perenungan atas perjalanan hidup selama setahun terakhir sekaligus mempersiapkan diri menghadapi tahun yang akan datang.
Selain sebagai tradisi budaya, Mubeng Beteng juga dimaknai sebagai latihan pengendalian diri dan penguatan spiritual dengan menjauhkan diri sejenak dari hiruk pikuk kehidupan sehari-hari.
Dalam prosesi tersebut, para abdi dalem membawa berbagai panji, di antaranya Bendera Merah Putih, Panji Gula Kelapa milik Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat, serta bendera dari kabupaten dan kota di Daerah Istimewa Yogyakarta. Panji-panji tersebut melambangkan persatuan, keselamatan, dan harapan akan kesejahteraan masyarakat.
Salah seorang peserta, Ana, mengaku telah empat kali mengikuti tradisi Mubeng Beteng. Menurutnya, kegiatan tersebut menjadi momentum untuk melakukan evaluasi dan perbaikan diri.
“Menurut saya, acara ini menjadi sarana introspeksi diri dan mengoreksi apa saja yang perlu diperbaiki ke depan,” ujarnya.
Tradisi Mubeng Beteng merupakan warisan budaya Keraton Yogyakarta yang telah berlangsung secara turun-temurun sejak masa pemerintahan Hamengkubuwono II. Selain memiliki nilai budaya yang kuat, tradisi ini juga mengandung pesan spiritual tentang perjalanan hidup, keteguhan, serta upaya mendekatkan diri kepada Tuhan Yang Maha Esa.
Hingga kini, Mubeng Beteng tetap menjadi salah satu tradisi yang dinantikan masyarakat setiap malam 1 Suro dan menjadi bagian penting dari kekayaan budaya Yogyakarta.










