TVRINews, Yogyakarta
Palang Merah Indonesia (PMI) Kabupaten Gunungkidul terus menyalurkan bantuan air bersih ke sejumlah wilayah yang mengalami kekeringan akibat kemarau panjang. Kali ini, distribusi menyasar warga di Kapanewon Panggang dan Purwosari.
Di Padukuhan Tungu, Kapanewon Panggang, warga bahkan harus mengantre untuk mendapatkan pasokan air. Kondisi kekeringan membuat masyarakat terpaksa membeli air dengan biaya yang cukup tinggi untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Pada Rabu siang, PMI Gunungkidul mendistribusikan delapan tangki air bersih. Sebanyak enam tangki dikirim ke Padukuhan Tungu, sementara dua tangki lainnya disalurkan ke Kalurahan Karangnongko, Kapanewon Purwosari.
Di Padukuhan Tungu, dua truk tangki PMI yang masing-masing berkapasitas 5.000 liter menyalurkan air ke sejumlah titik penampungan warga. Air kemudian digunakan secara bersama untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga.
Krisis air di wilayah tersebut mulai dirasakan sejak awal Juli. Sedikitnya warga di 10 RT di Padukuhan Tungu mengalami kesulitan mendapatkan air setelah debit jaringan PDAM menurun akibat kemarau panjang.
Kondisi ini membuat kebutuhan terhadap bantuan air bersih meningkat. Sejak 11 Agustus, PMI Gunungkidul telah mendistribusikan air ke sejumlah wilayah terdampak, di antaranya Panggang, Purwosari, Gedangsari, dan Ngawen.
Personel PMI Gunungkidul, Danang Prabowo, mengatakan pihaknya berupaya mengambil air dari sumber yang relatif dekat dengan lokasi sasaran untuk mempercepat penyaluran.
“Untuk wilayah Panggang, air kami ambil dari sumber di Toboyo, Pulutan. Sementara untuk Gedangsari, kami mengambil dari Layan. Ada beberapa wilayah yang cukup sulit dijangkau, seperti Merteluh dan sekitarnya,” ujar Danang.
Bagi warga, bantuan tersebut sangat berarti karena harga air yang dibeli secara mandiri cukup membebani. Untuk satu tangki berkapasitas 5.000 liter, warga harus mengeluarkan biaya sekitar Rp150 ribu hingga Rp170 ribu.
Dukuh Tungu, Suprihatin, mengatakan air bantuan tidak hanya dimanfaatkan oleh warga yang menerima langsung, tetapi dibagikan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat dalam satu RT.
“Air bantuan ini digunakan bersama. Kalau ada tangki masuk ke salah satu RT, warga akan diberi tahu oleh Pak RT untuk mengambil air di tempat penampungan. Jadi bukan hanya untuk satu keluarga,” kata Suprihatin.
Ia menambahkan, bantuan air sangat membantu warga di tengah kondisi kemarau. Tanpa bantuan, masyarakat harus kembali membeli air untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
“Kalau tidak ada bantuan dari pemerintah atau pihak lain, warga kami tetap harus membeli air,” ujarnya.
Warga berharap persoalan kekeringan dapat ditangani melalui solusi jangka panjang. Salah satunya dengan memperluas jaringan perpipaan PDAM agar akses air bersih dapat menjangkau wilayah yang selama ini kesulitan mendapatkan pasokan.
PMI Gunungkidul memastikan distribusi air bersih akan terus dilakukan selama permintaan masyarakat masih tinggi. Penyaluran juga akan diperluas ke wilayah lain yang terdampak kemarau dan mengalami keterbatasan sumber air.










