TVRINews Yogyakarta
Rencana pemasangan catra atau mahkota di puncak Candi Borobudur akan dilakukan setelah perayaan Hari Raya Waisak tahun 2026. Catra tersebut memiliki makna penting sebagai simbol penghormatan dan pencapaian spiritual tertinggi dalam ajaran Buddha.
Hal ini disampaikan Menteri Kebudayaan RI, Fadli Zon, saat melakukan kunjungan ke Vihara Mendut, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah.
Dalam kunjungan tersebut, Fadli Zon disambut oleh pimpinan vihara, Bante Pannavaro. Keduanya berdialog mengenai berbagai aspek simbolik dalam ajaran Buddha, termasuk arca, pohon Bodhi, serta catra yang berada di atas stupa induk Borobudur.
Fadli menjelaskan bahwa catra memiliki makna mendalam dalam tradisi Buddha.
“Catra merupakan simbol penghormatan, perlindungan, serta pencapaian amalan tertinggi. Dalam banyak situs Buddha, simbol ini hadir sebagai mahkota atau payung, termasuk yang tergambar dalam relief Borobudur,” ujarnya.
Ia menambahkan, pemasangan catra juga menjadi bagian dari upaya menjadikan Borobudur sebagai living heritage yang tidak hanya dilestarikan secara fisik, tetapi juga dimaknai secara spiritual.
Menurutnya, rencana tersebut telah mendapat dukungan dari berbagai organisasi umat Buddha dan masyarakat luas karena dinilai membawa nilai positif bagi pelestarian budaya dan spiritualitas.
Sementara itu, Bante Pannavaro menyebut kunjungan tersebut lebih bersifat silaturahmi dan pertukaran pengetahuan.
“Kunjungan ini sifatnya perkenalan. Dalam dialog, kami membahas berbagai simbol seperti pohon Bodhi dan arca Buddha, yang kemudian saya jelaskan sesuai pemahaman kami,” ungkapnya.
Usai kunjungan ke Vihara Mendut, rombongan Menteri Kebudayaan melanjutkan agenda ke kawasan Borobudur untuk berdiskusi dengan para pelaku budaya setempat.










