TVRINews, Yogyakarta
Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), Sri Sultan Hamengku Buwono X, menerima kunjungan Wakil Menteri Perumahan dan Kawasan Permukiman (PKP) RI, Fahri Hamzah, di Gedhong Wilis, Kompleks Kepatihan Yogyakarta.
Pertemuan yang berlangsung hampir dua jam itu membahas arah pembangunan kawasan permukiman dan penataan kota menuju Indonesia Emas 2045.
Dalam pertemuan tersebut, kedua pihak juga mendiskusikan pengalaman Yogyakarta sebagai kota budaya yang dinilai mampu menjaga keseimbangan antara pelestarian warisan sejarah dan pembangunan modern.
Pada kesempatan itu, Fahri Hamzah menyerahkan buku karyanya berjudul "Indonesia Menuju Swasembada Papan 2045" yang memuat mengenai peta jalan pembangunan perumahan nasional sebagai fondasi pelaksanaan Program 3 Juta Rumah.
Menurut Fahri, Yogyakarta memiliki karakter yang istimewa sehingga layak menjadi laboratorium sekaligus inspirasi bagi pembangunan kota-kota lain di Indonesia. Pembahasan bersama Gubernur DIY tidak hanya berfokus pada pembangunan rumah semata, tetapi juga menyentuh filosofi penataan kawasan perkotaan, ruang publik, hingga keberlanjutan lingkungan.
"Bapak Presiden sendiri punya rencana besar untuk memperbaiki kota-kota yang ada di Indonesia, menciptakan kantong-kantong pemukiman baru untuk memodernisasi masyarakat kita, baik dengan Program 3 Juta Rumah maupun Gerakan Indonesia Asri, sehingga itu akan menjadi pekerjaan besar yang transformatif kedepan," kata Fahri Hamzah, dikutip Rabu, 15 Juli 2026.
Ia menambahkan, pemerintah juga berupaya menghadirkan hunian yang layak dan terjangkau bagi masyarakat melalui modernisasi kawasan permukiman.
"Kita juga perlu melakukan modernisasi dan memfasilitasi masyarakat yang memerlukan hunian yang layak tapi terjangkau, dan karena itu lah mulai dari filosofinya sampai isu-isu teknis tentang penataan kawasan dan sebagainya termasuk kawasan pesisir kita bahas tadi," ujarnya.
Sementara itu, Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono X menyambut baik gagasan yang disampaikan Kementerian PKP. Meski demikian, Sultan menegaskan implementasi program di lapangan masih memerlukan pembahasan lanjutan agar sesuai dengan karakteristik wilayah DIY.
"Nanti kan masih ada pembicaraan tindak lanjut bagaimana mengaplikasikan, sekarang baru pandangannya saja, tapi kan nanti kalo melihat lokasi dan sebagainyakan akan tumbuh pikiran-pikiran lebih luas lagi bagaimana kemungkinan-kemungkinannya, mendesainnya dan sebagainya," kata Sultan.
Melalui koordinasi antara pemerintah pusat dan Pemerintah Daerah DIY, Program 3 Juta Rumah diharapkan tidak hanya menjadi solusi penyediaan hunian layak bagi masyarakat, tetapi juga menghadirkan model penataan kota yang modern, humanis, dan tetap berpijak pada nilai-nilai budaya Indonesia.










