TVRINews, Yogyakarta
Komisi C DPRD Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) melakukan kunjungan kerja ke proyek pembangunan Groundsill Srandakan di Sungai Progo, Kabupaten Bantul. Kunjungan tersebut bertujuan untuk memastikan progres pembangunan berjalan sesuai target sekaligus menyoroti pentingnya pengawasan terhadap aktivitas penambangan pasir di sekitar kawasan proyek.
Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) Sungai dan Pantai II Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Serayu Opak, Dicky Maulana, menjelaskan bahwa hingga akhir Juni 2026 progres fisik pembangunan telah mencapai 77,2 persen, lebih cepat dibandingkan target yang telah ditetapkan.
Sementara itu, Wakil Ketua Komisi C DPRD DIY, Amir Syarifudin, mengatakan pekerjaan masih menyisakan sekitar 22,8 persen dan optimistis proyek dapat diselesaikan sesuai kontrak pada 31 Desember 2026.

"Progres pembangunan Groundsill Sungai Progo saat ini masih sesuai rencana, bahkan masih berada di atas target. Hingga saat ini progres pekerjaan telah mencapai sekitar 77 persen, sehingga tersisa sekitar 23 persen yang akan kami selesaikan sesuai jadwal," ujar Amir Syarifudin.
Proyek pembangunan Groundsill Srandakan memiliki nilai kontrak sebesar Rp213,8 miliar dan merupakan proyek multiyears contract yang dimulai pada 10 Oktober 2025. Bangunan sepanjang 300 meter tersebut dibangun untuk menggantikan groundsill lama yang mengalami kerusakan akibat degradasi dasar Sungai Progo hingga mencapai kedalaman sekitar empat hingga lima meter. Kondisi tersebut semakin memburuk setelah hujan ekstrem yang terjadi pada Januari 2025.
Groundsill baru dirancang dengan konstruksi yang lebih kuat menggunakan pondasi tiang pancang sedalam 12 meter untuk meningkatkan ketahanan terhadap gerusan aliran sungai. Musim kemarau pada periode Juni hingga Agustus 2026 juga dimanfaatkan sebagai momentum percepatan pekerjaan sebelum memasuki musim penghujan.
Anggota Komisi C DPRD DIY, Lilik Syaiful Ahmad, menegaskan bahwa keberadaan groundsill memiliki peran penting dalam menjaga ketersediaan air serta mendukung keberlanjutan infrastruktur sumber daya air. Karena itu, menurutnya, seluruh pihak perlu ikut menjaga bangunan yang telah dibangun dengan anggaran negara agar manfaatnya dapat dirasakan dalam jangka panjang.

"Groundsill ini memiliki banyak fungsi, terutama menjaga ketersediaan air. Karena itu, seluruh pihak harus bersama-sama menjaga dan melindungi infrastruktur yang telah dibangun agar anggaran yang telah dikeluarkan tidak menjadi sia-sia," ujar Lilik Syaiful Ahmad.
Dalam kunjungan tersebut, Komisi C DPRD DIY juga meninjau aktivitas penambangan pasir yang masih berlangsung sekitar 400–500 meter di hilir lokasi proyek. Aktivitas tersebut dinilai perlu diawasi secara ketat agar tidak memengaruhi stabilitas dasar Sungai Progo maupun mengurangi umur layanan bangunan groundsill.
Groundsill Srandakan memiliki fungsi strategis untuk menjaga kestabilan aliran Sungai Progo, melindungi jaringan irigasi, menjaga ketersediaan air baku, serta mencegah intrusi air laut di wilayah Trimurti, Brosot, Srandakan, dan Galur. DPRD DIY berharap pembangunan dapat selesai tepat waktu sehingga manfaatnya segera dirasakan oleh masyarakat, khususnya di wilayah selatan Daerah Istimewa Yogyakarta.










