TVRINews, Yogyakarta
Pemerintah Kabupaten Gunungkidul kembali menggelar tradisi Jamasan Pusaka di kompleks Bangsal Sewokoprojo, Wonosari. Kegiatan tahunan ini menjadi bagian dari upaya menjaga dan melestarikan warisan budaya serta nilai-nilai luhur peninggalan para leluhur.
Prosesi jamasan berlangsung khidmat dengan membersihkan sejumlah benda pusaka milik Pemerintah Kabupaten Gunungkidul, mulai dari keris, tombak, hingga berbagai jenis tosan aji. Proses pembersihan dilakukan secara tradisional oleh para abdi dalem Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat yang memiliki keahlian dalam merawat benda pusaka.
Pada tahun ini, lebih dari 30 pusaka mengikuti prosesi jamasan sebagai bentuk penghormatan sekaligus perawatan terhadap peninggalan budaya yang memiliki nilai sejarah.
Bupati Gunungkidul, Endah Subekti Kuntariningsih, mengatakan tradisi jamasan tidak hanya dimaknai sebagai kegiatan membersihkan benda pusaka, tetapi juga menjadi momentum untuk melakukan refleksi dan memperbaiki diri.

"Ini adalah warisan budaya dari nenek moyang yang harus kita jaga, rawat, dan lestarikan. Jamasan bukan hanya membersihkan pusakanya, tetapi juga menjadi pengingat untuk membersihkan hati dan jiwa kita," ujar Endah.
Menurutnya, keberadaan pusaka memiliki nilai filosofi yang mengajarkan tentang kepemimpinan, tanggung jawab, pengabdian, serta keteladanan dalam kehidupan bermasyarakat.
Pemkab Gunungkidul terus berkomitmen menjaga keberlangsungan tradisi tersebut agar tidak hanya menjadi kegiatan seremonial, tetapi juga menjadi media pembelajaran budaya bagi masyarakat, khususnya generasi muda.
Melalui kegiatan jamasan, masyarakat diajak untuk mengenal lebih dekat sejarah dan makna budaya yang terkandung dalam setiap pusaka. Tradisi ini diharapkan mampu memperkuat kecintaan terhadap warisan leluhur sekaligus menjaga identitas budaya Gunungkidul.
Jamasan Pusaka menjadi salah satu agenda budaya rutin Pemerintah Kabupaten Gunungkidul sebagai bentuk penghormatan terhadap peninggalan sejarah serta upaya mempertahankan nilai-nilai budaya yang telah diwariskan secara turun-temurun.










