TVRINews, Yogyakarta
Kelompok makanan, minuman, dan tembakau menjadi penyumbang utama deflasi bulan Juli secara month to month di Kabupaten Gunungkidul, Yogyakarta.
Kepala BPS Gunungkidul, Agus Hartatanto, menyebut harga beberapa komoditas di pasaran Gunungkidul pada Juli relatif lebih rendah dibandingkan kondisi pada Juni 2026.
Beberapa jenis sayuran juga mengalami penurunan harga di pasaran seiring lancar dan melimpahnya pasokan. Di sejumlah pasar tradisional Gunungkidul terjadi penurunan harga pada berbagai jenis sayuran, seperti cabai rawit, bawang merah, cabai hijau, buncis, dan tomat.
Berdasarkan data BPS, komoditas yang paling besar memberikan andil terhadap deflasi Juli adalah cabai rawit dan bawang merah. Komoditas cabai rawit memberikan andil deflasi sebesar 0,08 persen, sedangkan bawang merah sebesar 0,07 persen.
Sementara itu, komoditas sayuran lain seperti wortel, mentimun, dan kangkung justru mengalami inflasi pada bulan Juli.
Selain terjadi pada Juli tahun ini, BPS mencatat deflasi juga pernah terjadi pada awal tahun, yakni Januari, dengan nilai deflasi sebesar 0,17 persen.
Secara tahunan, tingkat inflasi di Gunungkidul terpantau stabil. Inflasi year on year berdasarkan Juli 2026 terhadap inflasi bulan Juli 2025 tercatat sebesar 2,30 persen, masih berada dalam rentang aman yang ditargetkan pemerintah.
"Masih ada beberapa yang terjadi inflasi tapi relatif lebih kecil kenaikannya dibanding dengan deflasi yang terjadi," ujar Agus, dikutip Rabu, 5 Agustus 2026.
Tidak hanya di Kabupaten Gunungkidul, deflasi pada Juli juga terjadi di Kota Yogyakarta dan level Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. Deflasi di Kota Yogyakarta tercatat sebesar 0,17 persen, sementara di tingkat Provinsi DIY mencapai 0,31 persen.









