TVRINews Yogyakarta
Pemerintah Kabupaten Bantul terus memperkuat upaya penanggulangan kemiskinan dengan menitikberatkan pada akurasi data penerima manfaat. Hingga akhir 2025, persentase penduduk miskin di Bantul masih tercatat sebesar 11,54 persen sehingga menjadi perhatian dalam penyusunan kebijakan pemerintah daerah.
Wakil Bupati Bantul, Aris Suharyanta, mengatakan pemerintah daerah telah menyiapkan lebih dari 100 program lintas organisasi perangkat daerah (OPD) untuk menekan angka kemiskinan hingga berada di bawah 10 persen pada 2026.
Menurut Aris, pembaruan Data Sosial dan Ekonomi Nasional menjadi salah satu instrumen penting untuk memastikan seluruh program bantuan dapat disalurkan secara tepat sasaran. Selain meningkatkan efektivitas program, data yang akurat juga diharapkan mampu mencegah terjadinya penerima bantuan ganda.
“Angka kemiskinan kita saat ini mencapai 11,54 persen. Target kami pada tahun 2026 ini adalah turun menjadi kurang dari 10 persen. Alhamdulillah, target tersebut juga sejalan dengan target Gubernur,” kata Aris Suharyanta kutip Kamis, 6 Agustus 2026.
Ia menjelaskan, masih tingginya angka kemiskinan di Bantul dipengaruhi oleh berbagai faktor, mulai dari tingkat pengangguran, pasangan atau keluarga baru yang belum memiliki kemampuan mengelola keuangan rumah tangga, hingga banyaknya kelompok rentan yang sudah tidak lagi produktif secara ekonomi.
Untuk menjawab persoalan tersebut, Pemerintah Kabupaten Bantul menjalankan sejumlah program intervensi. Melalui Dinas Sosial, pemerintah menghadirkan Program Boga Sehat untuk memenuhi kebutuhan pangan kelompok rentan. Sementara di sektor pendidikan, keluarga kurang mampu juga difasilitasi agar anak-anak mereka dapat mengakses pendidikan melalui program Sekolah Rakyat.
Kepala Dinas Sosial Kabupaten Bantul, Sukrisna Dwi Susanta, mengatakan setiap calon penerima bantuan akan melalui proses asesmen sehingga bantuan benar-benar diterima masyarakat yang paling membutuhkan.
“Misalnya kuota 200 orang, sementara yang datang bisa lebih dari 200 orang. Karena itu dilakukan asesmen dengan melihat kondisi rumah masing-masing. Jika kondisi rumahnya lebih baik dibanding warga yang benar-benar tidak layak, maka prioritas diberikan kepada mereka yang paling tidak berdaya,” ujar Sukrisna.
Ia menambahkan, Program Boga Sehat saat ini menyasar 1.112 lansia rentan yang akan menerima bantuan selama 10 bulan. Program tersebut diprioritaskan bagi lansia yang hidup sebatang kara dan diusulkan oleh pemerintah kalurahan.
Selain bantuan sosial, Pemkab Bantul juga menyiapkan langkah preventif melalui peningkatan literasi keuangan masyarakat.
Wakil Bupati Bantul menyebut pemerintah akan bekerja sama dengan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) untuk memberikan edukasi pengelolaan keuangan kepada pasangan pengantin dan keluarga baru, sebagai upaya mencegah munculnya kerentanan ekonomi di masa mendatang.









