TVRINews, Yogyakarta
Sebanyak 4.278 anak di Kabupaten Sleman tercatat belum bersekolah. Data tersebut diungkapkan dalam peluncuran Aplikasi Gandheng ATS (Anak Tidak Sekolah) berbasis Early Warning System (EWS) yang diselenggarakan oleh Dinas Pendidikan Kabupaten Sleman.
Bupati Sleman, Harda Kiswaya, mengaku terkejut setelah mengetahui masih banyak anak di wilayahnya yang belum memperoleh akses pendidikan. Menurutnya, kehadiran aplikasi Gandheng ATS diharapkan menjadi solusi nyata untuk mempercepat penanganan persoalan anak tidak sekolah sekaligus mengembalikan mereka ke bangku pendidikan.
Harda menilai aplikasi tersebut akan menjadi instrumen penting dalam mempercepat pendataan, pemantauan, dan penanganan kasus anak tidak sekolah sehingga angka tersebut dapat ditekan secara bertahap.
Pemerintah Kabupaten Sleman, lanjut Harda, berkomitmen untuk terus bersinergi dengan DPRD Kabupaten Sleman dalam menurunkan jumlah anak yang belum bersekolah. Ia meminta Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Sleman, Mustadi, segera menyusun langkah-langkah konkret yang dapat dimasukkan ke dalam Anggaran Perubahan agar penanganan dapat dilakukan secara lebih optimal.
"Kalau itu bisa benar-benar dilaksanakan, anak-anak yang tidak sekolah di Kabupaten Sleman bisa terurai. Yang 4.278 itu harus bisa diselesaikan. Setelah peluncuran aplikasi ini, saya minta Pak Mustadi memiliki target yang jelas pada anggaran perubahan. Berapa yang bisa kembali masuk ke sekolah reguler, berapa yang melalui PKBM, atau melalui jalur lainnya. Yang terpenting, sesuai tujuan negara ini didirikan, semua anak bangsa harus bisa mendapatkan pendidikan," pungkas Harda.
Selain itu, Harda meminta pelaksana teknis di lapangan tidak terlalu kaku dalam menerjemahkan regulasi. Salah satu opsi yang dapat dipertimbangkan, menurutnya, adalah penambahan jumlah siswa pada setiap rombongan belajar (rombel), selama kualitas pembelajaran tetap terjaga dan kemampuan guru dalam mengajar tetap menjadi perhatian utama.









