TVRINews, Kab. Kulon Progo
Dusun Grindang, Gabus, Hargomulyo, Kokap, Kabupaten Kulon Progo, menjadi salah satu wilayah yang terdampak kemarau panjang tahun ini. Akibat berhentinya sumber air dari Pamsimas sejak 3 minggu terakhir, setiap hari warga harus menempuh perjalanan hingga lebih dari 1 kilometer untuk mengambil air di sebuah mbelik atau mata air yang ada di tengah hutan.
Berbekal wadah berupa jeriken ataupun galon air, warga membawa air tersebut ke rumah untuk melakukan kegiatan sehari-hari, seperti mandi, mencuci baju, mencuci piring, dan sebagainya.
Sementara untuk kebutuhan minum, warga mengaku masih mendapatkan bantuan air dari pemerintah melalui distribusi air tangki.
Sejumlah warga mengaku, kondisi seperti ini baru dirasakan pada musim kemarau tahun ini. Kemarau yang cukup panjang membuat sumber mata air di wilayah ini kondisinya mengering.
Nurohman, salah seorang warga, mengatakan dirinya harus mengambil air setiap hari ketika kondisi sedang kering.
“Ngambil air setiap hari kalau lagi kering seperti ini. Tahun ini kekeringan, kemaraunya panjang. Airnya digunakan untuk mandi, cuci baju, cuci piring, dan sehari-hari,” ujar Nurohman, dikutip Kamis, 01 Oktober 2026.
Warga lainnya, Siti Asiyah, mengatakan kondisi kekurangan air baru terjadi tahun ini. Pada tahun sebelumnya, kebutuhan air masih dapat terpenuhi dengan lancar.
“Baru tahun ini. Kalau kemarin masih normal dan lancar. Harapannya, kepinginannya itu ada pemerintah yang membantu. Itu kan ada sumber air, kalau bisa dialirkan ke tempat-tempat penduduk. Pinginnya seperti itu,” katanya.
Warga berharap ada solusi jangka panjang untuk mengatasi kesulitan air bersih. Salah satunya memanfaatkan sumber mata air yang selama ini masih mengalir, dengan membuat saluran air menuju permukiman warga.
Dengan demikian, warga tak lagi harus menempuh jarak jauh atau menyeberang ke area sungai untuk mendapatkan air.










