TVRINews, Yogyakarta
Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mengoptimalkan penanganan dampak kesehatan akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang diperparah oleh fenomena El Nino berkepanjangan. Selain mendistribusikan bantuan medis ke wilayah terdampak, Kemenkes juga menyiagakan ribuan fasilitas pelayanan kesehatan di kawasan rawan karhutla.
Wakil Menteri Kesehatan RI, Benyamin Paulus Octavianus, mengatakan Kemenkes telah mengerahkan 11 Pusat Krisis Kesehatan untuk mempercepat pengiriman logistik kesehatan, masker, serta obat-obatan ke daerah terdampak.
Upaya tersebut diprioritaskan bagi wilayah dengan tingkat paparan asap tertinggi di Pulau Kalimantan dan Sumatra, seperti Riau, Palembang, dan Lampung.
Menurut Benyamin, hasil pemantauan udara saat kunjungan kerja ke Lampung, Palembang, hingga Riau menunjukkan kabut asap telah terdeteksi beberapa hari sebelum intensitasnya meningkat. Sementara itu, pembaruan data teknis harian terus dilakukan melalui Pusat Data dan Informasi (Pusdatin) Kementerian Kesehatan.
Berdasarkan data harian Kemenkes, akumulasi kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) di tujuh provinsi terdampak karhutla mencapai 113.336 kasus. Dari jumlah tersebut, 26.545 kasus dialami anak usia balita (0–5 tahun), sedangkan 86.791 kasus lainnya terjadi pada masyarakat berusia di atas lima tahun.
“Kita sudah kirim bantuan melalui Pusat Krisis Kesehatan. Begitu asap meningkat dan terjadi polusi, masyarakat harus menggunakan masker. Penanganan kebakaran dilakukan lintas sektor, sementara kami fokus pada upaya pencegahan, termasuk mengirim masker dan obat-obatan flu ke seluruh titik terdampak, khususnya di Kalimantan dan Sumatra,” ujar Wakil Menteri Kesehatan RI, Benyamin Paulus Octavianus, Kamis, 17 September 2026.
Guna mengantisipasi lonjakan pasien, Kemenkes menyiagakan pelayanan kesehatan di 1.691 puskesmas serta mengoperasikan 360 rumah sakit rujukan.
Selain itu, 87 Laboratorium Kesehatan Masyarakat (Labkesmas) beserta tenaga cadangan kesehatan turut dimobilisasi untuk memantau dan menguji kualitas udara secara berkala.
Kemenkes mengimbau masyarakat di wilayah terdampak agar tetap waspada dengan rutin memantau indeks kualitas udara, mencukupi kebutuhan air putih, menggunakan masker saat beraktivitas di luar ruangan, serta segera mendatangi fasilitas kesehatan terdekat apabila mengalami gejala gangguan pernapasan, seperti sesak napas.










