TVRINews, Yogyakarta
Pemerintah Kota Yogyakarta mulai menggulirkan Program Satu Kampung Satu Arsitek dengan kawasan cagar budaya Pakualaman sebagai proyek percontohan (pilot project).
Program ini dirancang untuk meningkatkan kualitas lingkungan permukiman sekaligus memperkuat potensi wilayah tanpa meninggalkan aspek sosial, budaya, dan kearifan lokal yang menjadi ciri khas kawasan tersebut.
Sejumlah titik di Pakualaman masuk dalam rencana penataan, di antaranya Kampung Ginggang yang dikenal sebagai sentra jamu, pendopo milik warga yang akan dikembangkan menjadi ruang publik multifungsi, penataan warung rujak es krim legendaris Pak Nardi, hingga pembangunan Tourist Information Center (TIC) untuk mendukung layanan wisata.
Pada tahap awal, para arsitek yang tergabung dalam Ikatan Arsitek Indonesia (IAI) Daerah Istimewa Yogyakarta akan melakukan kajian dan pemetaan lapangan. Hasil kajian tersebut akan menjadi dasar penyusunan desain agar sesuai dengan karakter dan kebutuhan masyarakat Pakualaman.
Wali Kota Yogyakarta, Hasto Wardoyo, mengatakan program ini merupakan upaya menghadirkan wajah baru kampung-kampung di Kota Yogyakarta melalui pendekatan desain yang terarah dan partisipatif.
“Untuk menata kampung di Yogyakarta supaya lebih baik, kami menghadirkan para ahli. Ada ratusan arsitek dari IAI yang siap turun ke kampung-kampung, ditambah dukungan dari ISI untuk memperkuat aspek seni dan kreativitas,” ujar Hasto Wardoyo.
Ia menegaskan, hasil penataan kawasan tidak hanya ditargetkan menjadi baik, tetapi juga harus memberikan nilai lebih dan daya tarik yang kuat.
“Jangan hanya ‘oke’, tapi harus ‘wow’. Karena kalau ‘wow’ itu bisa melampaui ekspektasi dan berpotensi menjadi destinasi wisata baru,” tambahnya.
Berdasarkan data IAI DIY, sekitar 500 arsitek disiapkan untuk terlibat dalam program ini dan akan turun langsung ke berbagai kampung di Kota Yogyakarta sebagai bagian dari pembangunan berbasis kawasan yang berkelanjutan.










