TVRINews, Yogyakarta
Konsep agrowisata mulai dikembangkan oleh belasan petani milenial yang tergabung dalam Kelompok Tani Sumber Taruna di Dusun Pereng, Kalurahan Sumberharjo, Kapanewon Prambanan, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta.
Memanfaatkan lahan tanah kas desa seluas sekitar 1.500 meter persegi, para petani menanam berbagai jenis sayuran, seperti bayam hijau, bayam merah, kangkung, hingga kubis. Lahan tersebut disewa dari pihak kalurahan dengan sistem tahunan dan mulai dikembangkan menjadi kawasan agrowisata sejak tiga tahun terakhir.
Selain menjadi lokasi budidaya sayuran, kawasan ini juga diarahkan sebagai destinasi wisata edukasi pertanian. Meski proses edukasi kepada pengunjung dinilai belum optimal, para pengelola optimistis konsep tersebut mampu berkembang dan memberikan dampak positif bagi perekonomian masyarakat Dusun Pereng.
Sebelumnya, wilayah tersebut mayoritas hanya mengandalkan hasil panen padi yang berlangsung setiap tiga bulan sekali. Kehadiran agrowisata diharapkan mampu membuka sumber pendapatan baru bagi warga setempat.
Pengembangan kawasan ini juga mendapat perhatian dari Dinas Pariwisata Kabupaten Sleman yang telah melakukan survei lokasi sekaligus memberikan bantuan bibit cabai untuk mendukung pengembangan pertanian.
Dalam operasionalnya, pengelola menjalin kerja sama dengan sejumlah sekolah, mulai dari Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) hingga taman kanak-kanak (TK). Para siswa diajak berkeliling area pertanian untuk mengenal berbagai jenis tanaman sayur, sekaligus melihat kandang domba dan kambing yang dikelola secara berkelompok oleh warga.
Salah seorang petani milenial, Heru Susanto mengatakan, hasil panen sayuran cukup menjanjikan karena masa panennya relatif singkat dan berlangsung berkelanjutan.
“Kalau sayur ada beberapa jenis. Misalnya bayam, satu lahan bisa menghasilkan sekitar Rp1,5 juta dalam satu bulan. Panennya sekitar 20 hari sekali, jadi berkelanjutan dan tidak berhenti,” ujar Heru, Kamis, 7 Mei 2026.
Sejauh ini, dukungan terhadap pengembangan agrowisata terus mengalir dari berbagai pihak, di antaranya Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) serta program bantuan “Sepeda Emas” dari Pemerintah Kabupaten Sleman.
Saat ini, kelompok pengelola terdiri atas enam orang pengurus. Ke depan, mereka juga berencana melibatkan lebih banyak ibu rumah tangga untuk mendukung pengelolaan dan pengembangan kawasan agrowisata tersebut.










