TVRINews, Yogyakarta
Pemerintah Kabupaten Kulon Progo meresmikan Sentra Kuliner Kampung Lele Asap di Padukuhan Jati, Kalurahan Banaran, Kapanewon Galur. Peresmian dilakukan untuk mengembangkan potensi kuliner khas daerah sekaligus menggerakkan perekonomian masyarakat.
Kawasan tersebut selama ini dikenal sebagai sentra produksi lele asap turun-temurun. Setiap hari, warga mampu memproduksi sekitar 4,5 kuintal lele asap yang dipasarkan ke berbagai wilayah di Kulon Progo hingga Kabupaten Bantul.
Sebanyak 32 pelaku usaha pengolahan lele asap mendapat pembinaan dan fasilitasi guna meningkatkan kualitas serta kapasitas produksi. Pemerintah daerah juga mendorong hilirisasi produk perikanan lokal agar mampu bersaing di pasar yang lebih luas, termasuk pasar nasional.
Lele asap khas Jati memiliki cita rasa khas karena proses pengasapan menggunakan sabut kelapa. Selain lebih tahan lama tanpa penyimpanan dingin, produk tersebut juga diolah menjadi beragam menu kuliner seperti mangut lele dan lele balado.
Ketua Komisi IV DPR RI, Titiek Soeharto, menilai pengembangan Kampung Lele Asap dapat meningkatkan pendapatan masyarakat sekaligus memperluas pemasaran produk lokal.
“Saya diminta meresmikan launching Kampung Lele di Dusun Jati, Banaran, Kulon Progo. Sebagian besar yang mengerjakan ini adalah ibu-ibu. Lele diasap supaya lebih tahan lama tanpa harus bergantung pada lemari pendingin. Saat ini produksinya juga sudah dipasarkan ke kabupaten lain. Mudah-mudahan ini bisa terus berkembang dan meningkatkan pendapatan warga,” ujar Titiek, Kamis, 7 Mei 2026.
Kepala Bidang Pemberdayaan Nelayan Kecil dan Pengelolaan Pelelangan Ikan Dinas Kelautan dan Perikanan Kulon Progo, Wakhid Purwo Subiyantoro, menyebut potensi pasar lele asap di Kulon Progo masih sangat besar.
“Lele yang digunakan seluruhnya berasal dari Kulon Progo. Produksinya mencapai sekitar 4 kuintal per hari pada hari biasa, bahkan bisa meningkat hingga 8 kuintal saat hari libur. Ini menunjukkan potensi pasar yang luar biasa sekaligus menjadi daya dukung bagi peternak lele segar di Kulon Progo,” jelasnya.
Menurut Wakhid, keberadaan Kampung Lele Asap diharapkan memberi efek berganda bagi sektor lain, mulai dari wisata, kuliner, hingga pengembangan kewirausahaan masyarakat.
Untuk menjaga identitas produk khas tersebut, Pemerintah Kabupaten Kulon Progo juga tengah mengajukan pendaftaran indikasi geografis ke pemerintah pusat. Langkah ini dilakukan agar Lele Asap Jati mendapat perlindungan hak kekayaan intelektual sebagai produk khas Kulon Progo.
Ke depan, Kampung Lele Asap Jati akan dikembangkan menjadi pusat wisata kuliner terpadu. Konsep tersebut akan dipadukan dengan destinasi lain di wilayah Galur, seperti wisata pelepasan tukik di Pantai Trisik, wisata perahu di muara Sungai Progo, hingga Jembatan Banaran.










