TVRINews, Yogyakarta
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Sleman bersama sejumlah instansi menyalurkan 10 ribu liter air bersih kepada warga Padukuhan Jitar Ngemplak, Kapanewon Moyudan, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta. Bantuan diberikan menyusul berkurangnya debit sumber air warga akibat kemarau panjang.
Warga di Padukuhan Jitar Ngemplak telah menerima distribusi air bersih sejak Agustus 2026. Debit sumur yang terus menurun membuat ketersediaan air untuk kebutuhan sehari-hari semakin terbatas.
Kondisi tersebut diperparah dengan rusaknya mesin pompa air di wilayah setempat. Kerusakan telah berlangsung sekitar satu bulan dan membuat warga semakin kesulitan mendapatkan pasokan air.
Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Sleman, Uun Mardiyanto, mengatakan distribusi air bersih telah dilakukan secara intensif sejak April 2026. Empat kapanewon menjadi wilayah prioritas penyaluran karena terdampak kekeringan.
“Distribusi air secara intensif sudah dilakukan sejak April 2026. Saat ini ada empat kapanewon yang menjadi sasaran, yaitu Turi, Moyudan, Tempel, dan Godean,” ujar Uun.
Berdasarkan catatan BPBD Sleman, hingga September 2026 total air bersih yang telah disalurkan mencapai sekitar 441.600 liter. Rinciannya, wilayah Turi menerima 209 ribu liter, Moyudan 121 ribu liter, Tempel 91.600 liter, dan Godean 20 ribu liter.
Untuk memperkuat penanganan kekeringan, BPBD Sleman kembali mengalokasikan anggaran sekitar Rp25 juta melalui anggaran perubahan. Penyaluran ke Moyudan baru dilakukan tahun ini karena kemarau berlangsung cukup panjang dan berdampak terhadap sumber air warga.
Selain sumur warga yang mulai mengering, kondisi sumber air di wilayah sekitar juga mengalami penurunan. Debit Kali Progo yang menyusut turut menjadi salah satu faktor yang memengaruhi ketersediaan air bagi masyarakat.
Namun, distribusi air bersih dinilai belum menjadi solusi jangka panjang. BPBD Sleman tengah menyiapkan pembangunan sumur bor di sejumlah wilayah yang mengalami kekeringan.
Sumur bor tersebut direncanakan memiliki kedalaman sekitar 10 hingga 16 meter, menyesuaikan kondisi sumber air di masing-masing lokasi. Proposal pembangunan telah diajukan dan pengerjaan ditargetkan dapat dimulai pada akhir 2026 dengan menggunakan anggaran Belanja Tidak Terduga atau BTT.
Pembangunan sumur bor diharapkan dapat menjadi solusi berkelanjutan untuk memenuhi kebutuhan air masyarakat, khususnya saat musim kemarau kembali terjadi.
Sementara itu, PPK Tanggap Darurat BPBD DIY, Dian Islamiyah, mengatakan distribusi air ke Moyudan menjadi penyaluran pertama yang dilakukan BPBD DIY di wilayah tersebut.
“Ini menjadi kali pertama BPBD DIY melakukan distribusi air bersih di Kapanewon Moyudan,” kata Dian.
Untuk mendukung percepatan penyaluran, BPBD DIY juga meminjamkan armada tangki air kepada BPBD Sleman. Armada berkapasitas sekitar 4.000 liter tersebut digunakan untuk mendistribusikan air ke warga yang terdampak kekeringan.
Penyaluran air bersih akan terus dilakukan berdasarkan kebutuhan masyarakat. Di saat yang sama, pemerintah daerah menyiapkan pembangunan sumur bor sebagai langkah jangka panjang menghadapi ancaman kekeringan di wilayah Sleman.










