TVRINews, Yogyakarta
Berawal dari kegiatan sederhana untuk mengisi waktu luang di tengah pandemi COVID-19, olahraga menembak justru mengantarkan Kanurian Al Ghozi dari Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta, ke panggung olahraga Asia.
Pemuda yang akrab disapa Kanu ini kini mendapat kepercayaan memperkuat kontingen Indonesia pada Asian Games 2026 di Aichi-Nagoya, Jepang.
Perjalanan tersebut tidak datang secara instan. Ada proses panjang, berbagai percobaan, hingga kegagalan yang sempat membuat Kanu mengambil jeda dari dunia kompetisi.
Ketertarikan Kanu terhadap olahraga menembak bermula saat pandemi membatasi aktivitas masyarakat. Sang ibu, Siti Nurohmah, yang juga seorang guru bimbingan konseling, berusaha mencari kegiatan yang sesuai dengan minat dan bakat putranya.
Berbagai aktivitas sempat dicoba, mulai dari karate, renang, panahan, hingga musik. Namun, tidak banyak yang membuat Kanu benar-benar tertarik.
Hingga suatu ketika, Kanu mencoba menembak menggunakan senapan yang ada di rumah. Dari sana, keluarga mulai melihat potensi yang berbeda.
“Saya terus mencari apa sebenarnya bakat Kanu. Sudah dicoba karate, renang, panahan, sampai gitar. Tapi ternyata yang paling membuat dia tertarik justru menembak,” ujar Siti Nurohmah.
Menurut Siti, kemampuan membidik Kanu sebenarnya sudah terlihat sejak lama. Bahkan sebelum mengikuti latihan secara serius, Kanu disebut memiliki ketepatan ketika membidik sasaran.
“Waktu pandemi, saya tidak ingin dia terus bermain HP setelah selesai belajar. Di rumah ada senapan, kemudian dia mencoba menembak. Ternyata bidikannya cukup tepat. Dari situ saya melihat ada sesuatu yang bisa dikembangkan,” tuturnya.
Menembak kemudian menjadi olahraga yang ditekuni Kanu. Cabang olahraga ini tidak hanya membutuhkan ketepatan, tetapi juga konsentrasi, ketenangan, disiplin, dan kemampuan mengendalikan diri.
Saat duduk di kelas XI SMA Negeri 2 Playen, Kanu mulai aktif mengikuti berbagai kompetisi. Perkembangannya cukup pesat hingga memasuki kelas XII dan bergabung dalam pemusatan latihan nasional atau pelatnas.
Kesibukan menjalani latihan membuat Kanu harus lebih banyak menghabiskan waktu di Jakarta. Kondisi tersebut tidak membuat pendidikan ditinggalkan.
SMA Negeri 2 Playen memberikan dukungan melalui pembelajaran daring sehingga Kanu tetap dapat mengikuti proses pendidikan ketika menjalani latihan di pelatnas.
Sari Wahyu Nengsi, guru matematika sekaligus wali kelas Kanu saat duduk di kelas XII, mengatakan sekolah berupaya menjaga keseimbangan antara pendidikan dan prestasi olahraga.
“Kanu mulai aktif menembak sejak kelas XI, kemudian semakin intensif ketika kelas XII. Saat dia harus mengikuti pelatihan di Jakarta dengan sistem asrama, sekolah memfasilitasi pembelajaran secara daring,” kata Sari.
Di mata gurunya, Kanu merupakan sosok yang tenang dan tekun. Karakter tersebut dinilai mendukungnya dalam menjalani olahraga yang membutuhkan konsentrasi tinggi.
“Dia anaknya tenang dan kalem. Menurut saya, karakter itu cocok dengan olahraga menembak. Dia juga tekun dan punya semangat yang tinggi di bidang tersebut,” ujarnya.
Namun, perjalanan sebagai atlet tidak selalu berakhir dengan kemenangan.
Pada PON 2024 di Aceh dan Sumatera Utara, Kanu belum mendapatkan hasil yang diharapkan. Kegagalan tersebut menjadi salah satu titik berat dalam perjalanan kariernya.
Kanu kemudian mengambil jeda dari kompetisi dan melanjutkan pendidikan di Universitas Negeri Yogyakarta. Bahkan, ia sempat melewatkan kesempatan mengikuti SEA Games pada awal masa perkuliahannya.
Sang ibu menyebut kegagalan di PON menjadi pengalaman yang cukup membekas bagi Kanu. Namun, keluarga terus memberikan dukungan agar ia tidak berhenti mengejar target.
“Waktu PON, itu menjadi pukulan terbesar buat dia. Tapi kami terus mendampingi dan memotivasinya. Saya selalu bilang, sebagai atlet itu ada kalah dan menang. Masih banyak kesempatan dan pertandingan lain yang bisa diikuti,” ujar Siti.
Setelah melewati masa jeda, Kanu kembali bergabung dalam pelatnas pada 2026. Kerja kerasnya kembali membawanya ke kompetisi internasional.
Pada Asian Games 2026 di Aichi-Nagoya, Jepang, Kanu dipercaya tampil di nomor rifle 10 meter, rifle 50 meter, serta nomor beregu campuran.
Perjalanan Kanu bermula dari sebuah aktivitas sederhana di rumah saat pandemi. Kini, bidikannya membawa nama Indonesia ke panggung olahraga Asia.
Dari Playen, Gunungkidul, ia belajar bahwa menjadi atlet bukan sekadar soal mengenai sasaran. Ada proses panjang, disiplin, dukungan keluarga, serta keberanian untuk kembali berdiri setelah mengalami kegagalan.
Sari Wahyu Nengsi berharap Kanu mampu menjaga semangat dan terus membawa nama baik Indonesia.
“Tetap semangat, Mas Kanu. Bawa nama baik Indonesia dan semoga selalu sukses. Jangan lupa dengan orang-orang yang selama ini memberikan dukungan,” ujar Sari.
Bagi keluarga, perjalanan Kanu masih panjang. Sang ibu berharap putranya tetap disiplin dan berjuang maksimal ketika membawa nama Indonesia di kompetisi internasional.
“Harapan Ibu dan Bapak, Kanu terus berjuang membawa nama baik Indonesia. Tetap semangat, disiplin, dan berjuang sampai titik terakhir,” kata Siti Nurohmah.
Dari Gunungkidul, Kanu kini kembali menarik napas, membidik sasaran, dan menembak asa untuk Merah Putih.










