TVRINews, Sleman
Kuliner legendaris Bubur Malam Pawon Mbah Sadiyo di Mlati Sleman tawarkan kehangatan sajian rumahan tradisional yang buka hingga dini hari.
Suasana hening malam membawa kita ke sebuah dapur sederhana di Tirtoadi, Mlati, Sleman. Di tempat ini, beragam lauk sederhana khas rumahan dijajarkan, siap memadamkan rasa lapar pada malam hari. Namanya Bubur Malam Pawon Mbah Sadiyo. Seperti namanya, tempat ini memang hanya buka saat malam hari, tepatnya sejak pukul 19.00 hingga 01.00 WIB.
Bubur menjadi kuliner dengan peminat paling banyak di tempat ini. Dengan berbagai lauk pendamping, pelanggan bisa menuntaskan rasa lapar saat tengah malam. Bubur dijajakan dengan harga mulai Rp10.000 hingga Rp20.000 per porsi, tergantung lauk pendamping yang dipilih. Selain bubur, pembeli juga bisa memilih nasi yang turut disediakan.
Salah seorang pembeli, Nova, mengaku mengetahui tempat makan tersebut melalui media sosial. Ia kemudian datang untuk mencoba menu yang disajikan.
“Tadi makan bubur, terus ada capcai juga serta gorengan. Kalau untuk harga, masih terjangkau,” kata Nova, dikutip Senin, 31 Agustus 2026.
Menurut Nova, rasa makanan yang disajikan juga menjadi alasan dirinya tertarik untuk kembali menikmati kuliner tersebut.
“Tahunya dari media sosial, terus mencoba ke sini. Ternyata rasanya enak,” tambahnya.
Usaha ini merupakan usaha yang dirintis Sadiyo sejak puluhan tahun silam. Terbiasa berjualan di Pasar Beringharjo, Yogyakarta, semasa muda hingga berjualan di kantin sekolah, membawa Sadiyo menekuni usaha kuliner ini.
Mulanya, Sadiyo berjualan di depan rumahnya. Namun, lantaran tak lagi muda dan tidak memiliki banyak tenaga, banyak pelanggannya menyarankan agar Sadiyo menjajakan dagangannya di dalam dapur.
Sadiyo pun mempertahankan konsep tersebut hingga kini.
“Ini sudah 30 tahun. Kalau dulu itu di luar, terus ada tetangga bilang, ‘Di dalam saja biar tidak angkat-angkat.’ Kalau pelanggannya dari mana-mana, dari Kulon Progo, Bantul, Solo, dan lain-lain,” katanya.
Konsep kesederhanaan dapur tradisional inilah yang hingga kini dipertahankan Sadiyo dengan dibantu anak dan cucunya.
Sadiyo pun masih semangat menyiapkan setiap menu hingga melayani para pelanggan. Di tengah suasana malam yang sunyi, dapur sederhana itu tetap menjadi tempat bagi warga untuk menikmati makanan rumahan sekaligus mengusir lapar hingga dini hari.









