TVRINews, Gunungkidul
Musim kemarau yang melanda Kabupaten Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta, semakin menyulitkan kehidupan warga. Di sejumlah wilayah, masyarakat bahkan terpaksa menjual ternak peliharaan untuk membeli air bersih guna memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Kondisi tersebut dialami warga Padukuhan Gebang, Kalurahan Girisuko, Kapanewon Panggang. Kemarau panjang menyebabkan sumber-sumber air yang selama ini menjadi andalan warga mengering. Warga yang biasanya mengandalkan air hujan dan mata air alami kini tidak memiliki pilihan selain membeli air bersih.
Harga satu tangki air berkisar antara Rp150 ribu hingga Rp180 ribu. Bagi sebagian besar warga, biaya tersebut menjadi beban yang cukup berat, terutama bagi mereka yang mengandalkan penghasilan tidak tetap.
Untuk memenuhi kebutuhan air, sebagian warga terpaksa menjual kambing maupun ternak lainnya yang selama ini menjadi tabungan keluarga. Hasil penjualan ternak digunakan untuk membeli air bersih agar kebutuhan rumah tangga tetap terpenuhi.
Salah seorang warga, Sugiyanto, mengatakan dirinya bersama warga lain pernah berupaya mencari sumber air dengan mengebor sumur hingga kedalaman sekitar 72 meter. Namun, upaya tersebut tidak membuahkan hasil karena tidak ditemukan cadangan air. Sejumlah telaga alami di wilayah Girisuko juga telah mengering akibat kemarau berkepanjangan.
"Sekarang benar-benar kering. Sudah belasan hari tidak ada air, jadi mau tidak mau harus membeli air tangki. Kalau tidak punya uang, biasanya warga menjual kambing atau ternak lainnya untuk membeli air. Kami juga sudah beberapa kali mengebor sumur, tetapi tidak pernah menemukan air," ujar Sugiyanto.
Menyikapi kondisi tersebut, Pemerintah Kapanewon Panggang mulai menyalurkan bantuan air bersih kepada warga terdampak. Distribusi dilakukan menggunakan truk tangki dan disalurkan ke bak-bak penampungan agar dapat dimanfaatkan masyarakat.
Panewu Panggang, Sustiwiningsih, mengatakan pemerintah telah menyiapkan 329 tangki air bersih untuk memenuhi kebutuhan enam kalurahan yang terdampak kekeringan sepanjang tahun ini.
"Kapanewon Panggang akan menyalurkan bantuan air bersih ke enam kalurahan terdampak. Tahun ini kami menyiapkan 329 tangki air. Kami berharap bantuan ini dapat meringankan beban masyarakat selama musim kemarau," katanya.
Selain penanganan darurat, pemerintah juga menyiapkan solusi jangka panjang melalui pembangunan jaringan air bersih. Menurut Sustiwiningsih, mulai tahun depan kebutuhan air di Kalurahan Girisuko diharapkan dapat dipenuhi melalui pasokan dari sumber air Wuluhkumet dan Gedung Lumut yang didukung pembangunan 525 sambungan rumah bekerja sama dengan Habitat for Humanity Indonesia.
Hingga akhir Juli 2026, distribusi bantuan air bersih masih terus dilakukan. Selama hujan belum turun dan sumber air belum kembali pulih, ribuan warga di kawasan rawan kekeringan Gunungkidul diperkirakan masih bergantung pada pasokan air bersih dari pemerintah maupun pihak lain.









