TVRINews Yogyakarta
Pembangunan Jalur Jalan Lintas Selatan (JJLS), Jembatan Kabanaran, dan Kelok 23 mulai memberikan dampak terhadap aktivitas ekonomi masyarakat di kawasan wisata pantai barat Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta.
Akses yang semakin mudah membuat wisatawan lebih leluasa berpindah dari satu destinasi ke destinasi lainnya. Selain memperpendek waktu tempuh, panorama di sepanjang JJLS hingga kawasan Kelok 23 juga menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan.
Kondisi ini turut membuka peluang bagi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah atau UMKM untuk mengembangkan usaha mereka. Pemerintah Kabupaten Bantul pun mendorong masyarakat memanfaatkan geliat pariwisata tersebut untuk meningkatkan perekonomian, dengan tetap memperhatikan aturan dan ketentuan yang berlaku.
Salah satu pelaku UMKM yang merasakan peluang tersebut adalah Hesti Irawati. Warga Dusun Ngentak, Poncosari, Srandakan, Bantul, ini mengembangkan usaha gethuk goreng yang sebelumnya lebih dikenal sebagai kuliner khas Sokaraja, Banyumas, Jawa Tengah.
Hesti mulai memproduksi gethuk goreng pada 2022. Ide tersebut muncul setelah dirinya melihat peluang menghadirkan produk oleh-oleh alternatif di kawasan wisata pantai selatan Bantul.
Sebelum menemukan racikan yang sesuai, Hesti mengaku harus melakukan lima kali percobaan. Setelah berhasil, produksi terus dikembangkan hingga produknya kini dipasarkan di kawasan Pantai Baru dan sejumlah titik di sepanjang JJLS Bantul bagian barat.
“Kalau saya melihat peluangnya bagus, soalnya ini kan pusat wisata yang ada di sebelah selatan Jogja. Saya berani mengambil produk gethuk goreng untuk saya angkat, dan saya pelopor pertama. Kalau sekarang sudah banyak yang jual gethuk goreng,” ujar Hesti.
Usahanya kini berkembang cukup signifikan. Dari rumah produksi miliknya, Hesti mampu mengolah sekitar tujuh kuintal singkong setiap hari dengan melibatkan 17 pekerja.
Proses produksi dilakukan secara bertahap. Singkong terlebih dahulu dipilih dan dibersihkan sebelum dimasak. Setelah itu, singkong digiling dan kembali diolah bersama adonan gula merah. Adonan kemudian dicetak, digoreng, dan dikemas sebelum dipasarkan.
Untuk menarik konsumen, Hesti menyediakan sejumlah varian rasa, di antaranya original, durian, dan nangka. Produk tersebut dikemas menggunakan besek berukuran kecil dan dijual dengan harga sekitar Rp10 ribu hingga Rp20 ribu per kemasan, tergantung jumlah isinya.
Hesti mengatakan produknya memiliki karakteristik tersendiri dari sisi tekstur dan rasa.
“Perbedaannya itu lebih lembut, lebih manis, dan membuat ketagihan,” katanya.
Menurut Hesti, meningkatnya mobilitas wisatawan di kawasan selatan Bantul ikut memberikan pengaruh terhadap penjualan produknya. Ia mulai merasakan dampak dari keberadaan infrastruktur baru, terutama akses di sekitar Jembatan Kabanaran dan Kelok 23.
Ia menyebut tingkat penjualan yang sebelumnya berada di kisaran 70 persen kini meningkat hingga sekitar 90 persen. Dalam satu pekan, omzet usahanya bahkan bisa menembus lebih dari Rp5 juta.
Perkembangan tersebut menunjukkan bahwa pembangunan infrastruktur tidak hanya berkaitan dengan peningkatan konektivitas antarwilayah, tetapi juga membuka ruang bagi masyarakat untuk mengembangkan kegiatan ekonomi di sekitar kawasan wisata.
Dengan semakin berkembangnya destinasi wisata di sepanjang pantai selatan Bantul, pelaku UMKM seperti Hesti berharap peningkatan kunjungan wisatawan dapat terus memberikan dampak positif terhadap usaha masyarakat setempat.










