TVRINews, Gunung Kidul
Melonjaknya harga ayam potong di pasaran menjadi salah satu pemicu inflasi di Kabupaten Gunungkidul pada Agustus 2026. Badan Pusat Statistik (BPS) Gunungkidul mencatat inflasi pada Agustus mencapai 0,28 persen, dengan kelompok makanan, minuman, dan tembakau menjadi penyumbang utama.
Kenaikan sejumlah komoditas bahan makanan mendorong terjadinya inflasi di Gunungkidul sepanjang Agustus 2026. Berdasarkan data BPS Gunungkidul, ayam potong atau ayam ras menjadi komoditas yang memberikan sumbangan inflasi cukup signifikan.
Selama Agustus, terjadi peningkatan harga sekaligus permintaan ayam potong di pasaran. Kondisi tersebut diperkirakan dipengaruhi kembali bergulirnya program Makan Bergizi Gratis (MBG), serta meningkatnya kebutuhan masyarakat untuk berbagai hajatan dan perhelatan yang banyak digelar.
Di sejumlah pasar tradisional, harga ayam potong bahkan sempat menyentuh Rp42 ribu per kilogram.
Ayam potong menjadi komoditas dengan sumbangan inflasi tertinggi pada Agustus, disusul sejumlah komoditas lainnya, seperti buncis, kacang panjang, beras, dan wortel yang juga mengalami kenaikan harga.
Kepala BPS Gunungkidul, Agus Hartanto, mengatakan di tengah kenaikan sejumlah komoditas, beberapa jenis sayuran justru mengalami penurunan harga dan memberikan andil terhadap deflasi pada Agustus.
Komoditas yang mengalami penurunan harga antara lain bawang merah, tomat, kangkung, kol, dan kelapa. Selain itu, harga telur ayam ras di sejumlah pasar tradisional juga tercatat mengalami penurunan.
“Kalau secara keseluruhan masih di dalam selang, ya. Jadi sebenarnya, teman-teman biasanya setiap hari Senin itu ada pertemuan. Apabila ada arahan dari pusat untuk melakukan intervensi, mereka melakukan intervensi. Namun, kadang-kadang Tim TPID juga punya reaksi cepat. Mereka punya tim reaksi cepat yang bisa menetralisasi apabila terjadi kenaikan harga,” ujar Agus Hartanto, Rabu, 2 September 2026.
Inflasi Gunungkidul sebesar 0,28 persen pada Agustus 2026 tercatat lebih tinggi dibandingkan Kota Yogyakarta sebesar 0,24 persen dan inflasi Daerah Istimewa Yogyakarta sebesar 0,27 persen.
Sementara itu, inflasi tahunan atau year on year Gunungkidul pada Agustus 2026 tercatat sebesar 2,87 persen. Angka tersebut masih berada di bawah batas atas sasaran inflasi pemerintah, yakni 3,5 persen.
Selain kelompok makanan, minuman, dan tembakau, penyumbang inflasi Gunungkidul pada Agustus 2026 berasal dari kelompok pakaian dan alas kaki serta kelompok pendidikan. Kenaikan pada kelompok pendidikan turut dipengaruhi momentum awal tahun ajaran baru.









